Bapak


“Teringat masa kecilku,kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu, buatku melambung
Di sisimu terngiang, hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu” Penggalan lagu dari ‘(Ayah) Yang Terbaik Bagimu’ dari ADA Band featuting Gita Gutawa ini cukup sering aku dendangkan. Bahkan ada dalam memory card di BB, jadi kalau aku kangen dengan alm. Bapak, aku selalu memutarnya. Sejak alm. Bapak meninggalkan kami sekeluarga, sudah teramat sering aku merasakan rindu yang teramat sangat. Jauuuh lebih rindu ketimbang dengan anakku. Beberapa hari terakhir ini malah sampai tiba-tiba teringat saat-saat pemakamannya. Ya, meski Bapak sudah pergi sejak 2004, buatku, rasanya masih baru kemarin. Mungkin karena di hari itu aku belum merasakan dan memikirkannya, karena masih disibukkan dengan tetek bengek persiapan pemakaman almarhum, mulai dari mengabarkan ke kerabat, tetangga sampai mengurus surat-surat yang berkaitan dengan almarhum dan ahli warisnya. Aku seringkali merasa amat kehilangan. Bapak adalah orangtua, sahabat sekaligus guru buatku. Aku sering geleng-geleng kepala dengan kesabaran dan keikhlasannya menjalani kehidupan. Juga cara beliau menghadapi Ibu yang keras terhadap kami anak-anaknya. Bapak selalu membebaskan kami mengikuti kegiatan apa pun, baik waktu sekolah maupun kuliah, asal positif dan kami menyukainya. Berbeda 180 derajat dengan Ibu yang selalu melarang dengan berbagai macam alasan yang tidak masuk akal. Mulai dari narkoba sampai pergaulan bebas. Ketidakpercayaan pada kami yang harus dibayar mahal, karena kami semua jadi tidak terlalu akrab dengan Ibu. Rasa rindu ini semakin menjadi bila Ibu memarahiku dan mulai menghina dan mencaci maki aku. Seingatku, sewaktu Bapak masih ada, Ibu tidak seperti ini. Memang Ibu sejak dulu keras, tapi masih terkendali. Entahlah. Kadang aku sampai merasa bukan anak kandungnya. Perlakuan yang berbeda baik dari Ibu, juga dilakukan oleh Bapak. Meski tidak terlalu kentara. Tapi toh tetap saja aku merasakannya. Kalau Ibu sedang di puncak kemarahannya dan sudah mulai menghina, mengejek dan menyebutkan semua kesalahan yang pernah kuperbuat, seringkali aku merasa ingin sekali segera menyusul Bapak. Dulu, selalu ada Bapak yang membelaku atau paling tidak bisa mengingatkan Ibu, tapi sekarang ?? Tidak ada siapa pun. Meski beberapa orang yang tahu tentang hal ini selalu menyarankan agar aku bersabar, dan mengingatkan bahwa ada Allah yang akan selalu membela, buatku, itu hanya angin lalu. Apa ini bisa dikategorikan sebagai KDRT pun aku sudah tak bisa lagi memikirkannya. Yang jelas, aku selalu berusaha membalas kata-kata Ibu. Aku sampai menderita depresi dan dibawa oleh adikku ke praktek dokter ahli jiwa. Meski diam-diam, tanpa sepengetahuan Ibu, karena akan fatal buatku kalau sampai Ibu tahu. Kebetulan adikku dokter dan dia bisa melihat tanda-tanda depresi pada diriku. Mulai dari gampang lupa, suka melamun, insomnia yang makin parah, sampai bertambah diamnya aku yang pada dasarnya memang pendiam. Adikku ini curiga setelah suatu hari bertanya kenapa ada kantong mata di bawah mataku, yang ku jawab aku tidak bisa tidur nyenyak dan selalu diatas pukul 00.00. Dilanjutkan dengan pertanyaan, sekarang ngantuk gak?? Aku jawab enggak, padahal saat itu sudah pukul 22.00. Esoknya, adikku mengajakku ke dokter ahli jiwa di RSI Jemursari, untuk mengetahui apa jenis depresiku. Juga untuk mengobatiku, jangan sampai berkelanjutan. Karena aku masih punya tanggungan. Anakku. Seperti tadi pagi, tiba-tiba saja aku seperti mengalami saat-saat pemakaman Bapak. Kucurahkan ke timeline twitter-ku dan dijawab salah seorang follower kalau itu tandanya aku harus menengok makam Bapak. Mungkinkah seperti itu?? Wallahualam. Tapi aku sendiri memang ingin kesana. Mungkin aku memang harus kesana.

Posted with WordPress for BlackBerry.