UNAS


Beberapa hari terakhir ini, setelah kecelakaan pesawat Sukhoi di Gunung Salak, Cirebon berlalu, berita yang menghiasi berbagai media adalah kelulusan pelajar SMU se-Indonesia setelah menghadapi Ujian Akhir Nasional atau yang biasa disebut Unas. Dan seperti biasa, setiap kali ada pengumuman kelulusan, ada konvoi yang biasanya pakai sepeda motor yang dibleyer-bleyer gasnya, para pelajar yang mencorat-coret baju seragamnya dengan pilox,cat semprot atau spidol beraneka warna, atau bahkan teriakan histeris karena sedih tidak lulus Unas. Tidak munafik, saya pun dulu juga pernah menjadi pelajar SMU (dulu namanya SMA). Tapi yang membedakan adalah cara kami merayakan kelulusan. Mungkin, selain berbedanya cara penilaian dan bobot soal antara dulu dan sekarang, berbedanya cara memandang arti kelulusan itu sendiri. Dulu, orang bilang, soal tidak terlalu sulit, pengawasan agak longgar, tidak pakai lembaran khusus yang dikoreksi oleh mesin yang terhubung dengan komputer sehingga menggairahkan produksi pensil karbon yang setiap produsennya berlomba-lomba beriklan di media mana pun bahwa pensilnya yang terbaik (ada yang nyadar gak tentang akibat lain dari Unas, selain para pelajar dan sekolah?? Ya membengkaknya biaya iklan buat pensil ini, hehehe), pokoknya agak meremehkan yang dulu deh. Padahal ya sama aja sebenarnya. Sama ndredegnya, sama repotnya, sama bingungnya waktu mengerjakan ujian. Bahkan dulu saya selalu pulang diatas jam 9 malam, setelah seharian di sekolah dan melanjutkan les pelajaran di LBB yang kala itu mulai menjamur, munculnya fotokopian yang gak jelas asal usulnya yang ada tulisannya kunci jawaban Ebtanas (nama Unas dulu, singkatan dari Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional). Tohh, meski begitu pada waktu pengumuman kelulusan, saya dan teman-teman sepakat untuk melakukan hal lain yang lebih berguna ketimbang sekedar konvoi dan mencorat-coret seragam. Kami mengumpulkan buku-buku pelajaran yang sekiranya tidak dipakai lagi, terutama yang tidak punya adik 1-2 tahun di bawah kami dan seragam kami untuk disumbangkan ke teman-teman atau adik-adik yang kurang beruntung. Kenapa begitu?? Karena kami semua sadar, perjalanan hidup kami masih panjang daripada sekedar lulus SMA !! Sudah ada UMPTN (nama SNMPTN dulu) atau persiapan yang lain. Untungnya (khas Jawa sekali ya) sekarang ada berita baik yang lumayan menyejukkan. Peraih nilai Unas tertinggi nasional berasal dari Bali, kalau tidak salah namanya Ni Putu Tamara, anaknya santun, polos dan tidak macam-macam. Bahkan dia dengan santai dan penuh hikmat mengikuti peribadatan, bersyukur pada Sang Hyang Widhi Wasa atas kelulusannya. Padahal nilai yang diraihnya sempurna, 10 semua !! Ini seharusnya jadi contoh buat pelajar lainnya. Bahwa kelulusan tidaklah harus dirayakan dengan jalan konvoi dan corat-coret seragam. Hilangkanlah kebiasaan itu. Lakukan sesuatu yang lebih berguna untuk orang-orang di sekitarmu. Betapa pun kerasnya semua pihak baik guru, orang tua maupun polisi berupaya untuk mencegah, tidak akan mengubah keadaan, kecuali ada kesadaran dari diri mereka sendiri. Jadilah generasi muda yang dapat dibanggakan oleh negaramu, atau minimal orang tuamu.

Posted with WordPress for BlackBerry.