Taman Safari


Beberapa hari yang lalu, adik saya mengajak seluruh keluarga ke Taman Safari. Bagi kami, hal ini cukup mengejutkan karena kesehariannya adik saya ini cukup sibuk. Sebagai PPDS Bedah Plastik di FK Unair, hampir tiap hari dia ada jadwal jaga di RSUD Dr. Soetomo. Jawabannya dijelaskan dalam SMS ke Mami, katanya sibuk bikin jenuh, ingin refreshing. Kebetulan kami bertiga kakak beradik ini sudah jarang bertemu dan jalan bareng. Alhasil, di hari libur Maulid Nabi, kami berangkat pagi-pagi menuju ke Taman Safari 2, Prigen, Pasuruan. Semua anak kecil alias anak saya dan anaknya pun turut (ya iyalah, masa ditinggal, wong ini juga demi mereka). Kei senang sekali karena bisa bermain dengan sepupunya, Rey. Sepanjang perjalanan dua anak itu tak berhenti bikin kami tertawa karena ocehan-ocehan spontan yang lucu. Sesampai di pintu gerbang TS 2 ini, alamak !! Rupanya ada ribuan orang yang punya pikiran sama dengan kami sekeluarga. Tumpah ruah disana. Macet deh jadinya. Hampir setengah jam kami harus antre untuk masuk. Kami mengambil tiket reguler saja, karena hanya ingin melihat atraksi-atraksi yang ditawarkan di TS 2. Malah adik saya ini rupanya sudah menyiapkan makanan untuk makan siang, yang digelar seperti piknik saja. Anak-anak kecil ini senang sekali dengan atraksi gajah, taman burung, dan lumba-lumba. Paling mendebarkan pada waktu atraksi harimau-harimau yang dimiliki oleh Taman Safari yang merangkap konservasi ex situ untuk beberapa jenis binatang langka ini. Kami bahkan sempat berfoto ria dengan anak macan, anak singa dan harimau muda di tempat yang memang sudah disediakan. Sayang, file-nya sampai sekarang belum dikirim oleh adik saya 😦
Di akhir ‘piknik’ ini kami melihat satu pertunjukan final dari para kru TS 2 Prigen. Diberi judul “Temple of Terror”, mengisahkan tentang petualangan seorang lelaki bernama Jones mencari ayahnya yang hilang saat pergi ke suatu hutan pedalaman untuk mencari harta karun. Mungkin dimirip-miripkan dengan Indiana Jones ya, soalnya pakaiannya mirip, bawa tas, pakai topi dan pakaian warna khaki. Sayang, atau mungkin memang supaya tidak bocor, oleh kru diumumkan bahwa dilarang memotret apalagi merekam jalannya pertunjukan, baik dengan kamera atau dengan handphone. Mungkin juga supaya bisa lebih menikmati pertunjukan yang disajikan. Pertunjukannya sendiri, walau agak tidak ngeh dengan jalannya cerita yang “maksa”, cukup banyak efek-efek yang dihadirkan. Ada kejutan-kejutan yang melibatkan penonton seperti waktu teman Jones melempar dinamit ke dalam sumur dan tiba-tiba sumurnya meledak dengan menyemburkan air ke atas cukup keras dan mengenai penonton. Meski kaget, tapi penonton sepertinya cukup senang dengan tontonan ini. Ada juga semburan api saat dinamit dimasukkan ke sumur satunya. Ada pula adegan pertarungan (meski saya nilai juga “maksa”). Pertunjukan diakhiri dengan terbunuhnya lawan Jones dan atraksi hewan (of course !!) Serta sesi foto dengan para pemeran di “Temple of Terror”. Akhirnya kami kembali ke Surabaya dengan kaki pegal (kan jalan mulu di sana) dan pikiran fresh setelah keluar sebentar dari kesibukan sehari-hari.