Outbond CSR di Kebun Bibit Bratang


Seperti yang sudah diketahui, saya ikut bergabung dalam program kerjasama Dinsos Pemkot Surabaya dengan kampus tempat saya kuliah sekrang (dan yang lama, Unair) yang dinamakan CSR alias Campus Social Responsibility. Sepertinya Dinsos membaca kejenuhan dan penurunan semangat dari semua personel (juga hasil curhat ramai-ramai di grup WhatsApp) sehingga membuat acara evaluasi dan outbond di Kebun Bibit Bratang. Saya yakin (sekali) begitu dengar Kebun Bibit pasti teman-teman yang lain langsung meremehkan, underestimate, dan enggan untuk ikut. Apalagi bagi yang sudah angin-anginan ikut program ini, yang katanya terlalu berat bla bla bla. Pasti gak akan menganggap acara ini penting. Wong sudah diiming-imingi nilai matkul tertentu saja pada hilang mengundurkan diri dengan berbagai macam alasan. Sebagian bisa diterima, sebagian tidak. Kebanyakan tidaknya malah. Sudah begitu mengajukan alasannya tidak face to face tapi ditulis di laporan online. Kata Frenqui yang orang Timor Leste, “It’s not polite.” Saya dan Frenqui memang sering berkoordinasi, walau dia juga tidak bisa mengikuti outbond ini karena dia sudah pegang tiket pulang ke tempat asalnya. Ya masa dipaksa ikut. Tapi dia “polite” sekali, bicara jauh-jauh hari kepada saya. Ya sudahlah, percuma juga memaksa orang yang memang sudah tidak mau mengikuti program mulia ini. Setiap orang punya kemampuan sendiri-sendiri. Jadilah saya seorang single fighter. Ah, tapi tidak juga. Ada banyak teman dari universitas lain yang punya semangat dan tujuan yang sama untuk menyukseskan program ini. Ternyata ada juga yang mau ikut, Eka namanya. Walau pun datang terlambat, tak apalah daripada tidak sama sekali. Saya salut dengan teman-teman mahasiswa dari kampus-kampus lain itu. Dengan usia semuda itu, antara 20-22 tahun, mereka merasa terpanggil untuk menyelamatkan masa depan adik-adiknya. Kalau kata Bu Diyan,”Banyak yang merasa terpanggil, tapi inilah kita yang terpilih !” merujuk ke kami semua. Acara dibuka dengan wejangan dari Pak Supomo selaku Kepala Dinsos dan Mas Rozy dari Jawa Pos. Kemudian dilanjutkan oleh trainer dari Cartenz HRD yang memang saya tahu, teman semasa SMA, Doddy Faisal Humaini. Sebenarnya kami punya panggilan kesayangan buat dia, tapi yaahh, saya menghormatinya dengan memanggil Pak, karena kan tidak enak dengan teman-teman yang lain. Masih seperti dulu, dia jago sekali bikin orang tertawa, ada saja kesalahan dari peserta yang disindirnya membuahkan tawa bagi yang lain. Saya pribadi kagum dengan apa yang sudah diraihnya. Saya rasa cita-citanya sudah tercapai. Kembali ke outbond, kami dibagi menjadi 5 kelompok, yang masing-masing harus ada membuat yel-yel pendek yang ada unsur angka kelompoknya. Jadilah kelompok One Heart (kelompok 1), Duaarr (2), kelompok 3 saya lupa (hehe, maaf ya), saya di kelompok Fantastic Four (4) – ini saya yang usul lho *aih sombongnya, baru nama juga, dan kelompok 5 (saya lupa juga, sekali lagi, maaf). Teman saya Eka di kelompok 5. Semuanya harus melewati 5 pos yang sudah disediakan dan “dijaga” oleh TKSK. Kelima pos memiliki tantangan sendiri. Pos pertama yang dikunjungi kelompok saya, sesuai kelompoknya, adalah pos 4. Tantangannya adalah memindahkan 2 buah hula hop melewati kami semua yang bergandengan tangan. Kelompok yang paling banyak melakukannya dengan bolak-balik itulah yang menang. Untung di kelompok saya ada Bulanne, dari Unair yang pernah menjadi trainer juga di Cartenz. Jadilah kami berdua yang diajak berfoto bersama oleh Pak Doddy, pada waktu istirahat makan siang. Maklum, kami dilarang bawa kamera, handphone dengan kamera selama outbond berlangsung. Semua tersimpan di dalam tas. Berkat Bulanne, kami bisa menyusun rencana sebelum melaksanakan tantangan. Tantangan di pos selanjutnya adalah permadani lipat. Dengan melipat permadani, harus bisa bolak-balik tapi semua orang tetap di atas permadani. Pos selanjutnya memindahkan bola dengan tali yang dibentuk menjadi seperti jaring laba-laba dari garis start ke garis finish yang jaraknya ± 2 m. Meski gagal beberapa kali akhirnya kami bisa juga. Pos ketiga, membuat menara dari sedotan plastik dan beberapa bantuan yaitu gunting, selotip, dan benang. Menaranya harus cukup kuat dan tinggi. Semua sedotan yang disediakan harus habis. Pos terakhir yaitu pos 5, kami bermain Mine Sweeper. Tahu kan?? Itu permainan kotak bila kita salah melangkah maka kita akan menginjak ranjau. “Ranjau” nya berupa ucapan “Dhuarr” dari penjaganya, hehe. Di semua pos, kami ditanya apa makna dari permainan yang kami lakukan. Terakhir, permainan bola (balon, tepatnya) volley air. Balon berisi air dijadikan permainan volley. Bedanya, tidak pakai tangan tapi menggunakan taplak segi empat. Seru !! Dan basah. Hahaaa…diam-diam saya perhatikan teman saya Eka. Alhamdulillah kelihatannya dia sudah tidak canggung lagi berkumpul dengan teman-teman yang lain. Ada lagi yang membuat saya senang. Bukaaan, bukan hadiah brosur Avanza seperti yang dibilang P. Doddy untuk hadiah kelompok yang menang. Juga bukan karena kelompok saya jadi juara 2. Melainkan kembalinya teman saya dari Perbanas yang sempat mau mundur. Sahabat baru saya ini memang sedang menjalani semester akhir. Hampir sama dengan saya. Semangat saya bangkit lagi, karena kami memang punya adik damping yang berdekatan (lagi), hehehe…sekarang harapan saya mungkin tinggal pada Frenqui (yang dipuji TKSK bergerak sangat cepat sehingga adiknya sudah sekolah lagi) dan Eka (walau menurut dia, adiknya cukup sulit untuk dibujuk supaya mau sekolah karena malu memiliki masalah dengan kulitnya) tapi paling tidak, keduanya masih mau melanjutkan program ini. Saya ingin Universitas Narotama tidak dipandang sebelah mata lagi. Kemampuan mahasiswanya setara dengan yang lain, hanya saja kesempatan untuk kuliah baru kami miliki sekarang (mengutip ucapan dosen Metpen saya sekarang, Pak Bimo). Ya, singkatnya kalau yang lain bisa, kenapa kita tidak bisa?? Saya ingin teman-teman yang lain bisa melihat betapa besarnya semangat dari mahasiswa-mahasiswa dari berbagai kampus ini bisa kompak, bersama-sama berjuang memutus mata rantai masalah sosial sejak dini dengan membantu anak-anak bermasalah sosial untuk kembali ke ‘jalan yang benar’ yaitu kembali ke sekolah. Agar anak-anak ini bisa mandiri kelak, mengurus dirinya sendiri, tidak menjadi beban, baik untuk keluarganya apalagi untuk masyarakat. Ini juga kutipan dari Bu Diyan. Pinjam ya Bu. Buat teman-teman yang masih bertahan, ingat, tidak ada hal yang kita kerjakan itu akan menjadi sia-sia atau percuma (ini mengutip dari Pak Supomo – kok jadi sering kutip ya, semoga bukan karena efek Metpen, hahaha). Pasti akan ada hasilnya. Memang masih ada kekurangan disana-sini, tapi namanya juga program yang pertama, pasti butuh penyesuaian. So, seperti yel-yel pendek kelompok 4 : Fantastic Four, Go go go !!!