RS Unair


Beberapa hari yang lalu, saya ada satu urusan ke RS Unair. Hah??!! Unair punya RS ?? Ya !! Rumah Sakit ini adalah rumah sakit yang didirikan sebagai rumah sakit pendidikan untuk mahasiswa Fakultas Kedokteran Unair. Saya kurang tahu apa lagi yang menjadi tujuan pendirian RS Unair. Yang jelas RS ini sudah “menggantikan” salah satu “tugas” RSUD Dr. Soetomo untuk menjadi tempat tes kesehatan untuk maba Unair tahun ini. Ya, saya pun dulu menjalani tes kesehatan sebelum resmi menjadi mahasiswa Unair. Tes kesehatan yang dulu saya jalani adalah pemeriksaan kesehatan umum, mata, telinga dan rontgen dada. Untuk kesehatan mata, bagi mahasiswa FK, FKG, Farmasi dan FMIPA tidak boleh buta warna. Dulu saya ingat, dalam kelompok kami, ada yang tidak lolos tes kesehatan mata ini. Kasihan, walau kami baru kenal, kami ikut merasakan kesedihannya tidak dapat memasuki jurusan pertama yang dia pilih, yaitu Pendidikan Dokter. Sudah tentu dia harus masuk ke pilihan kedua, kalau tidak salah di Psikologi. Fatal sekali karena sudah mengulang 2x tes dan tetap dinyatakan buta warna. Saya saja nyaris tidak lolos karena ada 1 soal yang saya kurang jelas. Setelah diulang, baru penglihatan saya dinyatakan normal. Untungnya, tidak harus mengulang di lain hari, saya hanya disuruh beristirahat sebentar dan mengulang beberapa menit kemudian. Tes kesehatan umum berupa timbang badan, pengukuran tinggi badan dan tekanan darah. Sedangkan kesehatan telinga hanya mengetes pendengaran. Kenapa diadakan tes kesehatan?? Ya karena akan berkecimpung di dunia kesehatan. Kan tidak lucu kalau kita sendiri tidak sehat tapi harus menyehatkan orang lain. Jadi saya tidak heran, cenderung geli, melihat wajah-wajah cemas dan bosan (menunggu giliran diperiksa) dari para maba yang mengantri. Makin geli karena saya sempat dipanggil oleh salah seorang panitia tes sewaktu saya berjalan melewati mereka. Dengan senyum manis (campur heran) saya menjawab bahwa saya bukan maba dan sedang menuju ke urusan saya itu. Dibalas dengan senyum malu panitia itu dan ucapan maaf. Haha, ternyata saya masih pantas ya menjadi maba?? Yang jelas saya bersyukur pernah merasakan masa-masa itu. Yang membuat saya bisa menuliskan ini di blog sekarang. Karena tidak semua orang mengalami ini. Meski kalau disuruh memilih kembali ke masa itu atau menjalani masa sekarang, saya akan pilih tetap menjalani yang sekarang saja. Masa lalu sudah lewat dan hanya menjadi kenangan. Serta pengalaman berharga dalam hidup.