Otonomi Award


Ada yang pernah dengar mengenai otonomi award ?? Kalau belum ya agak “kebangetan”. Otonomi Award ini diadakan oleh JPIP atau Jawa Pos Institute of Pro Otonomi yang didirikan oleh Pak Dahlan Iskan. Pendirian JPIP-nya sihh sejak 2001, tapi Otonomi Award diadakan sejak 2009. Selengkapnya bisa digali disini : http://www.jpip.or.id/

Karena yang akan saya share di sini bukan itu, melainkan pengalaman saya menjadi salah satu partisipan dalam proses penjurian. Saya dan beberapa teman dari CSR 2014 diminta datang ke Kecamatan Semampir bersama salah satu keluarga adik damping dan adik kami. Ada Bu Ayun juga selaku Direktur kegiatan CSR dan TKSK Semampir, Pak Faris. Juri yang datang 2 orang, semua dari JPIP, saya kurang ingat nama beliau-beliau siapa, cuma yang saya ingat, salah satu jurinya menyatakan sebagai alumni FE Unair dan sekarang dosen di Unibraw Malang. Setelah pemaparan dari Bu Direktur CSR dengan meminjam laptop saya (disana disediakan proyektor, sayangnya tidak dilengkapi laptop. Karena kebetulan saya bawa ya pakai punya saya) dilanjutkan dengan testimoni dari para kakak pendamping dan adik damping. Yang memberikan testimoni adalah Grandhis (Unair), Hamdi (ITATS) dan Frenqui, kolega saya di Narotama. Adik asuh atau adik damping saya juga ikut memberikan testimoni. Ahh..saya jadi malu sendiri…soalnya si adik ini gak susah mengarahkannya..dibanding adik-adik teman lainnya yang punya banyak masalah. Yang menarik, Frenqui sampai usul dibuat program Citizen Social Responsibility, saking banyaknya permasalahan sosial yang dihadapi pemerintah kota Surabaya saat ini. Pak juri pun sepertinya cukup terkesan dengan program ini, bahkan sampai menyatakan seandainya beliau masih mahasiswa, beliau akan ikut program ini. Sayangnya, sempat ada kejadian yang mengagetkan dan memalukan saya :-p Kursi yang saya duduki tiba-tiba patah !! Alhasil saya terjengkang ke belakang. Alhamdulillah saya tidak apa-apa. Cuma malunya itu lhooo….pak Faris cuma senyum-senyum sambil memberikan kursi pengganti. Akhirnya tanpa kunjungan ke lapangan (ke rumah-rumah adik asuh) pertemuan diakhiri. Saya pun langsung pulang, karena adik dan ibunya memilih pulang sendiri ketimbang saya antar pulang.